Bagi saya, "Agustus" seperti musim panas yang membutuhkan percikan kembang api yang membuat wajah langitnya tak lagi gelap, monoton.
Namun, Agustus kali ini tak lagi sama dengan tiga Agustus Ajaib yang pernah saya miliki.
Sang penyemarak yang selalu saya miliki di tiga Agustus Ajaib itu sudah pergi. Allah menyatukan kami. Dan akhirnya pada Agustus Ajaib lagilah saya berharap.
Namun, kali ini saya salah.
Agustus tak lagi ajaib. Ia tak lagi menyatukan yang terpisah. Ia tak mengembalikan yang hilang. Ia tak memulangkan yang pergi. Ia tak lagi bisa.
Agustus tak lagi ajaib. Ia bahkan membawanya pergi, menjauh, semakin jauh dari pelupuk mata, dan smakin jauh sampai tak lagi tergapai jemari.
Agustus bukan lagi pembawa senyum sejenak setelah menoleh setahunke belakang, mengikhlaskan yang ada dan berpengharapan yang lebih di tahun depan.
Agustus kali ini akan berbeda tak ada lagi yang bisa ditunggu hingga menjelang pagi sekedar untuk mengucapkan selamat malam. Tak ada lagi telepon yang bisa membangkitkan senyum yang kami simpan dalam jarak puluhan kilometer.
Semua sudah berbeda kini.
Namun, tetap ada yang sama : " kerinduan akan hari - hari itu ".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar